Sabtu, 13 Juli 2013

PROBLEM MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN



MAKALAH
“PROBLEM MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Konseling Tematik
Dosen pembimbing : Nur Faizin L.c
Oleh:
KELOMPOK 1
Ahmad Sabiqin (2011143320147)
Nuryati (2011143320176)
Susi Zulaikho (2011143320186)
Wi’anto (2011143320188 )

JURUSAN DAKWAH
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ATTANWIR
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesehatan serta kemudahan bagi kami dalam menyelesaikan tugas makalah Tafsir Konseling Tematik ini, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad SAW, keluarga sahabat,serta orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam mengikuti sunnah beliau.
Dalam makalah ini kami akan menguraikan bagaimana problem manusia dalam perspektif Al-Qur’an, bagaimanakah problem manusia dari sudut pandang dunia konseling, apakah sesuai dengan teori-teori barat jika digabungkan. Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada Dosen mata kuliah Tafsir tematik konseling Ustadz Nur Faizin L.c atas bimbingan yang telah diberikan sehingga dapat terciptanya makalah ini. Ucapan terima kasih juga tak lupa kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses terciptanya makalah kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran dari pembaca guna perbaikan makalah kami.merupakan suatu harapan pula dengan terciptanya makalah ini. Kami dapat memenuhi tugas mata kuliah tafsir tematik konseling yang telah diberikan oleh ustadz Nur Faizin L.c kepada kami dan kami juga berharap makalah ini dapat menjadi motifasi bagi kami khususnya dan pembaca umumnya untuk mempelajari dan menyusun makalah yang membahas tentang tafsir tematik konseling yang lebih baik dan bermanfaat .Aamiinn...

Talun. 20 Maret 2013
Kelompok 1
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu Tafsir al-Qur'an adalah penting karena ini benar-benar merupakan ilmu asas yang diatasnya dibangun keseluruhan struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam. Itulah sebabnya mengapa al-Tabari (wafat 923 M) menganggapnya sebagai yang terpenting dibanding dengan seluruh pengetahuan dan ilmu. Ini adalah ilmu yang dipergunakan ummat Islam untuk memahami pengertian dan ajaran Kitab suci al-Qur'an, hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.
Tafsir adalah satu-satunya ilmu yang berhubungan langsung dengan Nabi, sebab Nabi telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menyampaikan risalah kenabian, seperti yang terbukti dari ayat ini: "agar kamu (Muhammad) dapat menjelaskan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka." Karena al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab dengan mengikuti cara-cara retorika orang-orang Arab, maka orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi memahami makna ayat al-Qur'an serta situasi ketika diturunkannya. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mempelajarinya.
Problem manusia dizaman sekarang ini sangatlah kompleks, bisa timbul dari diri sendiri, bisa dari lingkungan, Maupun dengan Allah SWT. Menyangkut faktor internal dan faktor external, Dan bagaimanakah jika masalah tersebut di hubungkan dengan teori-teori barat. Maka pentinglah kiranya masalah tersebut untuk dikaji dari hakekat manusia, dan problem manusia yang ditimbulkan.
B.     Rumusan Masalah
Makalah ini membahas tentang :
1. Apakah pengertian problem itu?
2. Bagaimanakah hakekat manusia menurut Al-Qur’an ?
3. Bagaimanakah problem manusia dalam persepektif Al-Qur’an dan teori-teori barat?
C.    Tujuan Pembahasan
Untuk menjelaskan :
1. Pengertian problem manusia
2. Hakekat manusia menurut Al-Qur’an
3. Problem-problem manusia dan kaitannya dengan teori barat.

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Problem Manusia
Problem manusia dalam konseling ditujukan dengan berbagai gejala penyimpangan yang merentang dari kategori ringan sampai berat. Dalam hal ini Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tentang tingkatan masalah sebagai berikut :
1)      Masalah ringan seperti malas dalam beribadah, malas dalam bekerja, membolos sekolah, kesulitan belajar Dan lain sebagainya.
2)      Masalah sedang seperti gangguan emosional seperti; berkelahi antar tetangga, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar karena ada gangguan di keluarga dan lain sebagainya.
3)      Masalah berat seperti gangguan emosional berat, seperti kecanduan alkohol, tindakan kriminalitas, percobaan bunuh diri dan lain sebagainya.
Di dalam al-Qur’an, banyak ayat yang mencela manusia. Dalam hal ini berarti manusia benar-benar telah berada dalam problematika atau bermasalah. Ayat-ayat tersebut diantaranya adalah :
“…Sesungguhnya manusia itu sangatlah dzalim  dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab (33). 72).
“Manusia benar-benar sangat mengingkari nikmat” (QS. Al-Hajj (22). 66).
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup” (QS. Al-’alaq (96). 6-7).
“…  Adalah manusia bersifat tergesa-gesa (QS. Al-Isra’ (17). 11).
“Apabila manusia ditimpa  bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah  dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya (QS. Yunus (10). 12).
“… Adalah manusia itu sangat kikir (Al-Isra’ (17). 100).
“… Manusia adalah makhluk yang paling pandai membantah” (QS. Al-Kahfi (18). 54).
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebahagiaan ia amat kikir” (QS. Al-Ma’arij (70). 19-21).
Dari ayat-ayat diatas nampak jelas, bahwa  perangai manusia digambarkan oleh al-Qur’an adakalanya baik dan adakalanya tidak baik, kadang dipuji dan kadang dicaci. Manusia memiliki kesempurnaan  yang potensial dan mereka harus mengarahkan diri mereka  kepada “kesempurnaan positif”, dan tidak sebaliknya. Modal  untuk malaksanakannya telah diberikan oleh Dzat yang menciptakannya, yaitu, fitrah, nafsu,hati/qold, ruh dan akal.
Itulah sedikit gambaran bahwa manusia itu benar-benar dalam keadaan bermasalah.
2.      Hakekat Manusia
ü  Istilah manusia dalam Al-Qur’an
Menurut  Quraish, al-Qur’an menggunakan istilah yang beragam untuk menyebut manusia. Istilah tersebut adalah ;
1.      Istilah yang  terdiri dari huruf alif, nun dan sin, seperti insan, nas dan unas
2.      Istilah/kata basyar
3.      Istilah/kata bani Adam dan dzurriyati Adam (Quraish. Ibid. Hal. 178)
ü  Sebab-sebab problem manusia dari aspek dinamika kepribadian manusia menurut Islam
ü  Fitrah
Dari segi bahasa, kata fithrah terambil dari kata al-fathr yang berarti “belahan”. Dari  makna ini lahir  makna “penciptaan” dan kejadian”. Kata ini, dengan berbagai bentukya, terulang sebanyak 28 kali dalam al-Qur’an. Separuhnya  dalam konteks bumi dan atau langit, sisanya dalam konteks penciptaan manusia  (Quraish Shihab. Ibid. hal 284). Muhammad bin Asyur, seperti dikutip oleh Quraish shihab, ketika menafsirkan surat Ar-Ruum (30) ayat 30 mengatakan :
الفطرة هي النظام الذي أوجده الله في كل مخلوق. والفطرة التي تخص نوع الإنسان هي ما خلقه الله عليه جسدا وعقلا
Fitrah adalah bentuk dan system yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah  apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani  dan akalnya (serta ruhnya) (Quraish Shihab. Ibid. hal. 285).
ü  Nafs
Dalam al-Qur’an  kata ini memiliki berbagai makna,
*      totalitas manusia (QS. Al-Maidah (5). 32,
*      sesuatu pada diri manusia yang dapat menghasilkan tingkah laku (QS-Ar-Ra’d (13). 11 dan
*      kadang menunjukkan pada “diri Tuhan” (QS. Al-An’am (6). 12).
Nafs adalah dimensi manusia yang berada antara roh, yang adalah cahaya dan jasmani.Menurut imam Al Ghozali, nafsu adalah himpunana kedua kekuatan yang ada pada manusia, yakni marah dan syahwat atau dengan kata lain, kekuatan emosi dan instink.Dalam kajian tasawuf nafs memiliki dua arti, yakni pertama, kekuatan hawa nafsu, syahwat, dan perut yang terdapat dalam jiwa manusia, dan merupakan sumber bagi timbulnya ahlaq. \
Kedua, jiwa rohani yang bersifat lathifah, rohaniah dan robbaniah.Dan Pada dasarnya wajar saja manusia memiliki keinginan akan sesuatu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT.
Namun kebanyakan dari kita mengartikan nafsu itu dari sisi negatif. Dan firman Allah SWT: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).pada dasarnya manusia tidak bisa lepas yang namanya nafsu karna sebagai manusia pastinya mempunyai keinginan akan hal tersebut.
Dalam pandangan al-Qur’an, nafs  diciptakan allah  dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan (QS. Al-Syam (91). 7-8). Disilah  letak perbedaan pengertian nafs  menurut al-Qur’an dengan  pengertian nafs bagi kaum sufi, karena mereka mengartikan nafs dengan  sesuatu yang melahirkan sifat buruk dan tercela.
Walaupun al-Qur’an menegaskan  bahwa nafs berpotensi positif dan negatif,  namun ada isyarat yang menegaskan  bahwa hakekat   potensi positif manusia  lebih dominan, tetapi daya tariknya lemah. Sedangkan potensi negatif adalah sebaliknya. Isyarat lainnya adalah nafsu itu berperingkat-peringkat, secara eksplisit disebutkan:
o Nafsu lauwwamah
Nafsu ini tingkatannya lebih tinggi daripada nafsu amarah. Orang yang berada pada tahap nafsu lawwamah ini sudah tau antara perbuatan yang dilarang dan amal kebajikan. Saat jatuh pada kejahatan dia masih merasa puas namun disisi lain ia menyesali perbuatannya itu. Dia Kadang ia berbuat baik dan setelah itu akan kembali melakukan perbuatan dosa lagi. Orang yang seperti ini masih belum bisa dijamin masuk surga.
o Ammarah (QS. Yusuf (12). 53) dan
Nafsu ini adalah nafsu yang paling mudah menjerumuskan manusia kedalanm panasnya api neraka. Orang yang memiliki nafsu ini tentu tidak kenal dengan yang namanya akhirat. Orang ini senang melakukan perbuatan yang dilarang asalkan dirinya bisa merasa senang dengan perbuatannya itu.
Mereka yang memiliki nafsu amarah mudah putus asa jika diuji oleh Allah SWT. Maka dari itu mereka berlomba-lomba melakukan perbuatan dosa untuk membuat dirinya senang

o Mutmainnah (QS. Al-Fajr (89). 27- 30)
Orang yang berada dalam tingkatan ini sudah dijamin masuk surga. Sesuai dengan yang terkandung dalam surat Al-Fajr ayat 27-30 : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku”.
Orang yang berada dalam tingkatan ini senantiasa dijauhkan dari rasa cemas dan gelisah atas segala ketetapan Allah SWT dan selalu merasa sejuk hatinya, tentram jiwanya,jika dia bisa melakukan suatu amal kebajikan. Hatinya senantiasa rindu pada Allah SWT.

ü  Qalb
Kata qalb terambil dari kata yang bermakna “membalik”, karena ia sering berbolak-balik. Kadang senang kadang susah, kadang menyayangi kadang membenci. Qalb berpotensi untuk tidak konsisten (lih. QS. Qaf (50). 37, Al-Hadid (57). 27, Ali Imran (3). 151 dan Al-Hujurat (49). 7).
Dari ayat-ayat tersebut nampak jelas, bahwa Qalb adalah wadah pengajaran, kasih-sayang, rasa takut  dan keimanan. Qalbu adalah tempat menampung yang disadari oleh pemiliknya. Dan disinilah perbedaannya dengan nafsu yang menampung hal-hal yang berada dibawah sadar. Dari  sini dapat dipahami, bahwa  yang dituntut  untuk dipertanggung jawabkan adalah isi qalb, bukan isi nafsu:
يؤاخذكم بما كسبت قلوبكم
Allah menuntut tanggung jawab kau menyangkut apa yang dilakukan oleh            qalbmu (QS. Al-Baqoroh (2). 225).
Qalb adalah sisi dalam manusia, demikian juga nafsu. Tetapi  qalb berada pada tempat tersendiri  yang masuk pada kotak  besar nafsu (Quraish Shihab. Ibid. hal.  290).

ü  Ruh
Berbicara masalah ruh, Allah telah lebih dulu mengingatkan manusia dengan firmannya dalam Al-Isra’ (17). 85.
ويسئلونك عن الروح, قل الروح من أمر ربي, وما أوتيتم من العلم إلا قليلا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,  “ruh adalah                  urusan Tuhan-ku, kamu  hanya diberi ilmu yang sedikit”.
 Kata ini diulang 24 kali oleh al-Qur’an dengan berbagi konteks  dan berbagai makna, dan tidak semuanya berkaitan dengan manusia. Dalam surat Al-Qodar (97) misalnya menyatakan tentang turunnya malaikat dan ruh pada malam lailatul qodar. Kata ruh dikaitkan dengan manusia juga dalam konteks yang bermacam-macam, ada yang hanya diberikan kepada makhluk pilihanNya (QS. Al-Mukmin (40). 15 yang dipahami sebagai wahyu dan juga diberikan kepada orang mukmin (QS. Al-Mujadalah (58). 22) yang dipahami sebagai dukungan. Dan ada juga yang diberikan kepada seluruh manusia (QS. Al-Hijr (15). 29).
Ada  hadits yang  menyinggung  masalah ruh ;
الأراح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف
Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisir, yang saling mengenal akan bergabung, dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.
Hadits diatas diriwayatkan oleh Bukhori dari Aisyah dan Abu Hurairah, oleh Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah, dan  oleh at-Thobrani dari Ibnu Mas’ud seperti yang ia tulis dalam kitabnya, al-Kabir (Jalaluddin Abdurrahman. Ibid. Hal. 122-123).
ü  Akal
Kata akal (‘aql) tidak ditemukan dalam al-Qur’an, yang ada adalah bentuk kata kerja  masa kini dan masa lampau. Dari segi bahasa kata akal (‘aql) berarti tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an menggunakannya sebagai “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang  terjerumus dalam kesalahan atau dosa”.  Untuk lebih jelasnya  perhatikan ayat-ayat berikut :
“Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang alim” (QS. Al-Ankabut (29). 43).
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang benar, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya” (QS. Al-An’am (6). 151).
“Seandainya  kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka” (QS. Al-Mulk (67). 10).
Dari ayat-ayat diatas dapat dipahami, bahwa akal bisa berarti  daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, dorongan moral dan daya untuk mengambil pelajaran, kesimpulan dan hikmah (Quraish Shihab. Ibid. hal  294-295).

3.      Pribadi Tidak Sehat (bermasalah) menurut Al-Qur’an dan Konseling.
Berdasarkan konsep konseling, pribadi tidak sehat adalah pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ayat-ayat Al Qur’an di samping menerangkan tentang pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, juga menerangkan pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah Swt.
1. Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri
Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam pendekatan Psikoanalisis, Eksistensial, Terapi Terpusat pada Pribadi dan Rasional Emotif Terapi, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri memiliki ciri kepribadian pokok:
(1) ego tidak berfungsi penuh serta tidak serasinya antara id, ego, dan superego,
(2) dikuasai kecemasan,
(3) tertutup (tidak terbuka terhadap pengalaman),
(4) rendah diri dan putus asa,
(5) sumber evaluasi eksternal,
(6) inkongruen,
(7) tidak mengakui pengalaman dengan tidak bertanggung jawab,
(8) kurangnya kesadaran diri,
(9) terbelenggu ide tidak rasional,
(10) menolak diri sendiri.
*      Al Qur’an menerangkan pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri adalah pribadi yang akal dan kalbunya tidak berfungsi dengan baik dalam mengendalikan nafsu, sehingga nafsu berbuat sekehendaknya, penuh emosi, tidak terkendali dan tidak bermoral
ü Q.S Yusuf : 53



 “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)
Oleh karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa dan bagaimana keburukan yang ada pada hawa nafsu, ayat-ayat yang menjelaskan tentangnya serta cara menanggulangi hal itu.
DEFINISI HAWA DAN NAFSU
Hawa maknanya adalah condong kepada sesuatu baik itu suatu kebaikan ataupun keburukan, condongnya jiwa untuk mengikuti sebuah keinginan. Jamaknya adalah ahwa’.Hawa juga bisa dimaknai dengan hawa nafsu, yaitu kemauannya. Firman Allah
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya Telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Qs. An-Najm 23)
Ibnu Abbas mengatakan “Dinamakan dengan hawa karena menjatuhkan pelakunya kepada neraka”.
Adapun nafs maknanya adalah jiwa atau ruh. Jamak dari nafs adalah nufus atau anfus  Namun kata nafs ini telah menjadi kalimat yang berkonotasi negative, yaitu yang bermakna selalu mengajak kepada keburukan. Begitu juga dengan hawa. Hal ini juga sebagaimana telah disinyalir dalam Al Quran surat, yang mana memang pada asalnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan,
“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)
Ibnu Katsir berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan )”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah ta’ala, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, maka Dia menyelamatkannya dari mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Sesungguhnya Allah Maha memaafkan dari dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat dari dosa tersebut dengan tidak menyiksanya. Adapun secara istilah yaitu yang menyelisihi petunjuk; kecondongan jiwa kepada apa yang diinginkannya, kecondongan hati kepada apa yang dicintainya meskipun hal itu keluar dari hukum-hukum syari’at. Maka setiap yang apa yang keluar dari yang diwajibkan oleh kitab dan sunnah maka berati itulah hawa. Dan ssetiap orang yang tidak mengikuti ilmu dan yang haq maka ia adalah shohibul hawa, Allah berfirman
’Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (QS. Al-An’am 119)
Manusia terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok dikalahkan oleh jiwanya kemudian dikuasai dan dihancurkannya, maka jadilah kelompok ini tunduk di bawah perintah-perintah jiwanya. Dan kelompok yang lain mereka bisa mengalahkan dan menguasai jiwa-jiwa mereka, maka jadilah jiwa mereka itu taat  kepada mereka dan patuh terhadap perintah-perintah mereka. Di dalam Al Qur’an Allah telah memberikan 3 sifat kepada jiwa yaitu : Al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Qs.  Al-Fajr 27-30. Al-lawwamah (jiwa yang mencela dirinya sendiri). Qs. Al-Qiyamah 2. Ammarotum bissu’ (yang selalu menyuruh kepada keburukan). Qs. Yusuf 53
2.      Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Orang Lain
Menurut konsep konseling seperti yang dikemukakan dalam Terapi Adler, Terapi Behavioral, Transaksional, dan Terapi realita, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain memiliki ciri-ciri kepribadian pokok:
(1) egois dan tidak mau menyumbang dan lebih suka menerima,
(2) memandang diri sendiri benar sedang orang lain tidak (jelek),
(3) tidak konstruktif, dan
(4) memenuhi kebutuhan sendiri dengan tidak peduli (merampas) hak orang lain.
Al Qur’an menerangkan, pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan orang lain adalah pribadi yang :
*      Bakhil dalam arti egois dan tidak mau menyumbang atau membelanjakan hartanya di jalan kebajikan
ü  Ali-Imran:175,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu (memang benar-benar beriman)
Tafsir : di ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bahwa perang saraf dan opini yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang kafir untuk meredam semangat orang beriman, semua itu bersumber dari bisikan setan. Setan lah yang mengomandani perbuatan mereka. Oleh karena itu seorang mukmin tidak boleh takut kepada selain Allah.Tidak boleh takut kepada setan dan balatentaranya yaitu orang-orang kafir, munafik dan musyrik yang selalu menakut-nakuti orang mukmin dalam memperjuangkan agamanya.


ü  Muhammad: 38)


Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.

(Ingatlah kalian) wahai, kalian ingatlah (kalian ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan harta kalian pada jalan Allah) maksudnya untuk menafkahkan apa yang telah diwajibkan atas kalian, yaitu zakat.

(Maka di antara kalian ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri) lafal Bakhila dapat bermuta'addikan 'Ala atau 'An, untuk itu dapat dikatakan Rakhila 'Alaihi dan Bakhila 'Anhu.

(Dan Allahlah Yang Maha Kaya) artinya, tidak membutuhkan infak kalian (sedangkan kalianlah orang-orang yang berhajat) kepada-Nya (dan jika kalian berpaling) dari taat kepada-Nya (niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain) Dia akan menjadikan yang lain sebagai pengganti kalian (dan mereka tidak akan seperti kalian) tidak akan berpaling dari taat kepada-Nya, bahkan mereka benar-benar akan taat kepada-Nya.
*      Tidak mau saling menolong (ta’awun) atau lebih suka menerima daripada memberi
ü  (Al-Ma’arij:19-21)
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebahagiaan ia amat kikir” (QS. Al-Ma’arij 19-21).

*      memiliki sifat marhun dan takabbur yaitu sifat sombong dan merasa diri lebih besar dan berharga daripada orang lain
ü  Al-Isra: 37
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Tafsir : Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong dan merasa paling besar. Karena sungguh meskipun kamu melakukan kesombongan itu, sekeras-kerasnya hentakan kakimu tetap tidak akan bisa menembus bumi. Demikian pula, kendatipun kamu tinggikan dirimu tanda kesombongan, ketinggianmu itu tetap tidak akan sampai menyejajari tingginya puncak gunung.

ü  Luqman:18
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(Q.S Lukman 18)
Orang yang memiliki sifat ini akan mudah melakukan hal-hal yang negatif terhadap orang lain, seperti su’us zhan (berpikir negatif), tajassus yaitu suka mencari-cari kesalahan orang lain, sedang kesalahan sendiri tidak diperhatikan,
*      ghibah yaitu menggunjing sesama dan sebagainya
ü  Q.S. Al-Hujurat:12
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S al-Hujura : 12).
Tafsir
Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah SWT melarang kaum muslimin dan muslimat mengolok-olokkan orang lain, mencela diri sendiri, dan memanggil orang-orang lain dengan gelar-gelar yang buruk, maka dalam ayat berikut ini Allah SWT melarang pula mereka dari berburuk sangka dan bergunjing agar terpelihara persaudaraan dan mengeratkan tali persahabatan dalam Islam.
Dalam ayat ini, Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang beriman, supaya mereka menjauhkan diri dari prasangka terhadap orang-orang yang beriman dan jika mereka mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut saudaranya mukmin, maka kalimat tersebut harus diberi tanggapan yang baik, ditunjukkan kepada pengertian yang baik, dan jangan sekali-kali timbul salah paham, apa lagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan fitnah dan prasangka.
Allah berfirman melarang hamba-hambanya yang beriman berprasangka yang bukan pada tempatnya terhadap keluarganya, familinya dan terhadap orang lain, karena sebagian dari prasangka itu merupakan perbuatan yang membawa dosa dan janganlah kamu mengintai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah memperumakan orang yang menggunjing sesama saudaranya yang mukmin, seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Tentu tidak seorang pun diatara kamu suka berbuat demikian, maka bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.
a.      Allah melarang orang-orang yang beriman berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan bergunjing.
b.     Allah SWT memberikan perumpamaan, orang yang suka bergunjing itu seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati.
c.      Allah SWT memerintahkan supaya tetap bertakwa karena Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

*      Di samping itu, juga pribadi yang senang melihat orang lain susah, enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyuruh berbuat baik dan mencegah kejahatan dengan kata lain adalah pribadi yang tidak konstruktif
ü  An-Nur:19
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Ayat ini adalah sebagian dari ayat yang mengisahkan tentang peristiwa yang sempat menjadi angin kencang dalam bahtera kehidupan berumah tangga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Fitnahan keji yang disebarkan oleh orang-orang munafik di kalangan kaum muslimin ketika itu, mengguncang hebat kehidupan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka turunlah ayat-ayat surat an-Nuur ini untuk menyatakan bersihnya 'Aisyah Radhiyallahu 'anha dari semua fitnahan keji itu. Kaum muslimin yang lalai dalam hal ini diperingatkan oleh Allah agar tidak mengulangi perbuatan yang sama, dan bahwa perkara ini bukanlah perkara enteng yang tak bermakna. Perkara ini adalah perkara besar yang akan merusak kehormatan dan kemuliaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah. Tentu saja jika hal itu terjadi akan mempengaruhi penyampaian risalah dan dakwah yang diemban oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Orang-orang munafik yang menyebarkan fitnahan ini pasti akan Allah balas dengan siksaan yang pedih di dunia mau pun di akhirat. Allah juga mewanti-wanti kaum muslimin agar berhati-hati terhadap mereka. Selanjutnya, Allah dalam ayat yang kita kaji kali ini menerangkan akibat dari orang-orang yang ingin kekejian tersebar di kalangan kaum muslimin, bahwa mereka akan disiksa di dunia dan di akhirat dengan siksaan yang pedih. Ini sekaligus ancaman bagi yang belum berbuat agar tidak berbuat fitnahan dan kekejian serta tidak menyebarkannya. Jika kekejian ini tersebar di masyarakat, banyak yang akan hancur, baik moral, tatanan sosial, garis keturunan, iman, dan sebagainya. Kalau Allah sudah mengancam orang yang memfitnah Ummul Mu'minin 'Aisyah Radhiyallahu 'anha dengan azab yang pedih.
*      pribadi yang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tidak menghargai atau mengorbankan hak orang lain, seperti berbisnis dengan riba, memperoleh harta dengan jalan batil, yaitu curang, menipu, mengurangi takaran dan timbangano dalan berjual beli, menunda-nunda pembayaran upah buruh, dan sebagainya
ü  Ali-Imran: 130
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan”

ü  Al-Baqarah: 278



 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”
Dengan ayat ini, Allah memerintahkan hambanya untuk beriman dan bertakwa melalui meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhi hambanya dari keridhaan-Nya. Makna dari “tinggalkan sisa riba” di sini adalah tinggalkanlah hartamu yang merupakan kelebihan dari pokok yang harus dibayarkan oleh orang lain. Pada ayat selanjutnya, dijelaskan pula bahwa apabila sisa riba tersebut tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman, maka Allah dan Rasul-Nya akan memerangi pada pengambil riba tersebut. Dan ayat selanjutnya pula menjelaskan bahwa apabila terdapat orang yang sedang berhutang sedang mengalami kesulitan dalam melunasi hutangnya, hendaknya diberikan penangguhan hingga dirinya memiliki kelapangan harta. Apabila orang tersebut tidak mampu membayarnya, akan lebih baik untuk direlakan dan akan dianggap sebagai sedekah di sisi Allah.
Dengan prinsip membebaskan orang dari kesulitan, riba menjadi salah satu hal yang sangat dilarang untuk dipraktekkan dan dijanjikan untuk diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya apabila orang-orang beriman tidak meninggalkannya setelah diberikan peringatan. Meminta tambahan atas keterlambatan pelunasan merupakan praktek riba, walaupun terkadang hal tersebut dilakukan untuk mendorong orang tersebut supaya cepat melunasi hutangnya, namun hal tersebut merupakan hal yang buruk di sisi Allah karena menyedekahkannya dengan tujuan meringankan beban orang yang berhutang adalah jauh lebih baik dan mendatangkan keridhaan-Nya.
Demikian sedikit penafsiran yang beberapa diambil dari ringkasan tafsir Ibnu Katsir.

ü  An-Nisa:161
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”
ü  Al-Baqarah: 188, dan
ü  An-Nisa: 29).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29)
Artinya                                                                                                                    “Wahai orang-orang yang beriman, janagnlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian.”
Ayat ini menerangkan hukum transaksi secara umum, lebih khusus kepada transaksi perdagangan, bisnis jual beli. Sebelumnya telah diterangkan transaksi muamalah yang berhubungan dengan harta, seperti harta anak yatim, mahar, dan sebagainya. Dalam ayat ini Allah mengharamkan orang beriman untuk memakan, memanfaatkan, menggunakan, (dan segala bentuk transaksi lainnya) harta orang lain dengan jalan yang batil, yaitu yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Kita boleh melakukan transaksi terhadap harta orang lain dengan jalan perdagangan dengan asas saling ridha, saling ikhlas. Dan dalam ayat ini Allah juga melarang untuk bunuh diri, baik membunuh diri sendiri maupun saling membunuh. Dan Allah menerangkan semua ini, sebagai wujud dari kasih sayang-Nya, karena Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kita
3.      Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Lingkungan.
konsep konseling seperti dikemukakan dalam Terapi Adeler dan Terapi Behavioral, bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak mampu berinteraksi dan mengelola lingkungannya secara baik, sehingga bisa melakukan hal-hal yang membuat lingkungan menjadi rusak.
Senada dengan konsep konseling di atas, Al Qur’an menerangkan bahwa pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan lingkungan adalah pribadi yang tidak mampu berinteraksi denganlingkungannya secara baik, sehingga ia tidak peduli dengan kerusakan lingkungan, atau ikut berbuat sesuatu yang bisa merusak lingkungannya, sekaligus tidak mampu membuat lingkungannya menjadi kondusif bagi kehidupan Al Qur’an mengungkapkan bahwa terjadinya kerusakan di bumi ini adalah karena perbuatan manusia
ü  (Ar-Ruum: 41,
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S Ar-rum 41)
menurut tafsir al mu'tabar
QS AR RUM ayat 41 menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi tidak lain karena ulah manusia itu sendiri yaitu melalkukan peperangan di luar koridoridor syariat allah. dalam peperangan itu manusia membunuh manusia yang oleh Allah dilindungi hak hidupnya, bahkan merusak segala tatanan alam yang ada.
bisa menjadi dalil tentang kewajiban tentang melestarikan lingkungan hidup, sebab terjadinya berbagai macam bencana juga karena ulah manusia yang mengeksploitasi alam tanpa di imbangi dengan upaya pelestarian.
Terlebih dahulu dalam QS AR RUM ayat 40 telah disebutkan bahwa perilaku orang-orang musyrik tidak ada lain adalah bertuhan ganda. perbuatan syirik ini di tuding oleh allah salah satu faktor utama timbulnya kerusakan di muka bumi. maka kedua ayat (QS AR RUM ayat 41-42) lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak sedikit manusia dari kalangan bangsa-bangsa terdahulu menginjak-injak hukum allah dengan malakukan berbagai bentuk perbuatan maksiat. di kalangan mereka telah merajalela kezaliman dan keserakahan, yang kuat merampas hak-hak kaum lemah. karena itu, kepada mereka allah tumpahkan azabnya tanpa satu pun manusia yang mampu mengelaknya.
kedua ayat dimuka merupakan satu paket "ajaran samawi" untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kerusakan tatanan alam dan lingkungan di muka bimi ini pada hakekatnya bersumber dari kerusakan yang terjadi pada diri manusia seperti :
1.      kerusakan iman : syirik
2.      kerusakan fitrah : mengabaikan hukum-hukum allah
3.      kerusakan akal fikiran : menghalalkan segala cara
4.      kerusakan moral : melanggar susila, budaya dan peradaban.

4.      Tidak Mampu Mengatur Diri dalam Hubungannya dengan Allah Swt.
Konsep konseling tidak ada menerangkan hal ini. Menurut Al Qur’an, pribadi yang tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan Allah antara lain adalah :
*      pribadi yang kufur dan syirik. Pribadi kufur adalah pribadi yang tidak beriman dan enggan menjalankan syari’at Allah (hukum-hukum Allah), termasuk juga sebagai kufur orang yang dengan sengaja tidak mau menjalankan ibadah kepada Allah Swt., dan tidak menerima dengan syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah (kufur nikmat). Dalam melakukan muamalah orang yang memiliki kepribadian kufur cenderung berlaku zhalim, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan hak orang lain
ü  Al Baqarah: 6,

Sesungguhnya orang-orang yang bersikeras/ngotot dalam mengingkari risalahmu wahai Muhammad, serta mengingkari juga ayat-ayat yang jelas yang engkau bawa padahal kebenaran bagi mereka sudah jelas disamping tidak adanya syubhat/kesamar-samaran serta keyakinan mereka bahwa engkau adalah orang yang jujur ; (namun begitu) peringatanmu kepada mereka tidak akan bermanfaat sama sekali bagi mereka karena mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka belaka.

ü  Maryam: 59
 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضاعُوا الصَّلاةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَواتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Tetapi datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sembahyang dan memperturutkan syahwat; maka mereka itu akan bertemu kesesatan.
Bahaya melalaikan sembahyang inilah yang diperingatkan benar-benar oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. di kala beliau akan meninggal dunia. Adalah dua perkara yang sangat beliau pesan­kan. Pertama sembahyang, kedua darihal urusan perempuan.
Menurut riwayat dari Abu Ubaidah, yang diterimanya dari Hajjaj, dia menerima dari Ibnu Juraij, dan dia ini menerima dari Mujahid. Mujahid men­tafsirkan ayat ini: "Bahwa hal demikian, yaitu melalaikan sembahyang akan kejadian bila kiamat telah dekat clan bila ummat Muhammad yang shalih sudah sama meninggal, yang satu mengelakkan diri dari yang lain dan pergi ke lorong-lorong tempat berzina."
Abdullah bin Mas'ud dan al-Qasim bin Mukahimarah menafsirkan: "Yaitu yang melalaikan waktu-waktunya dan tidak mendirikan kewajiban-kewajiban sembahyang itu dengan benar, dan bahwa jika pun engkau kerjakan sembah­yang padahal rukun syaratnya itu tidak engkau penuhi tidaklah sah sembahyangmu itu dan tidaklah diberi pahala." Dan kepada orang yang mengerjakan sembahyang seperti itu Nabi pernah mengatakan: "Kembali dan sembahyang! Karena tadi engkau belum sembahyang." Beliau peringatkan itu kepada orang tersebut sampai tiga kali. Demikian menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh Muslim. Huzaifah pernah bertemu orang sembahyang semacam itu. Yaitu sembah­yang secara kilat saja, banyak yang patut-patut yang dia tinggalkan. Lalu beliau bertanya: "Sudah berapa lama engkau sembahyang semacam ini?" Orang itu menjawab: "Sudah 40 tahun!" Maka berkatalah beliau: "Engkau belum pemah sembahyang dan kalau engkau mati dengan sembahyang seperti ini, engkau mati bukan dalam agama Muhammad." Hadits ini dirawikan Bukhari, lapalnya pun ada pada an-Nasa'i.
Dan menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Termidzi yang diterima dari Abu Mas'ud al-Anshari, berkata Rasulullah s.a.w.:
Description: http://kongaji.tripod.com/myfile/Surat_maryam-ayat-59-63_files/image004.jpg
"Tidak diberi pahala sembahyang yang tidak didirikan oleh orang itu."

Artinya tidak sempurna ruku'nya dan sujudnya.
Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq bin Ruaihi berpendapat bahwa sembahyang yang tidak disempurnakan ruku'nya dan sujudnya ltu tidaklah sah.
Di dalam Hadits pun tersebut ketika orang bertanya kepada Rasulullah s.a.w. apakah amalan yang paling baik? Beliau menjawab: "Sembahyang di awal waktunya."

Maka termasuklah pula dalam golongan orang yang melalai kan sembahyang, orang yang selalu sembahyang seketika waktu telah hampir habis. Dengan kebiasaan yang demikian, ditakutilah kemantapan dalam jiwa orang yang demikian akan hilang.

ü  At-Taubah: 35
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu".
ü  An Nisa: 168).
*      Di samping kekufuran, kesalahan yang sangat fatal terhadap Allah Swt. adalah syirik, yaitu “menyekutukan Tuhan”. Orang yang kena penyakit syirik ini meyakini bahwa Allah Swt adalah Tuhannya, namun amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk Allah, melainkan untuk sesuatu yang lain, seperti kepada roh halus, atau semata-mata untuk manusia, baik dalam melakukan ibadah maupun dalam bermuamalah
ü  An Nisa: 48, 36, dan
ü  Al Kahfi: 110).




Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan perbuatan yang baik dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)

Pada Kebiasaanya pada diri manusia itu ada kecenderungan berprilaku atau bersifat Hewani, maka dalam ayat ini disebutkan dengan menggunakan kata (بشر), Bukan
 ( انسان ), perbedaan antara kata بشر dan انسان adalah apabila بشر kecenderungan kepada hal-hal yang bersifat fisik atau berkulit sedangkan انسان lebih menunjukkan pada hal-hal yang bersifat kejiwaan.

Dalam tafsir ayat ini disebutkan bahwa kita sebagai manusia biasa terdapat suatu kesamaan dan perbedaan dengan Nabi,) مثلكم) yaitu sama-sama manusia ( (بشر tetapi ada pada diri Nabi sisi kelebihannya yaitu diberi Wahyu, dengan menggunakan kata (يوحي) mabni majhul yang berarti diberi wahyu bukan mendapatkan wahyu, dalam hal ini Nabi diberikan Wahyu oleh Allah sebagai tugas yang diembannya untuk disampaikan pada umatnya.
Dalam kandungan tafsir ayat ini juga terdapat suatu kemungkinan bagi manusia biasa untuk dapat bertemu dengan Tuhannya dialam dunia ini, Manusia bisa saja bertemu dengan Allah di dunia, hal ini sesuai dengan makna firman Allah:

فمن كان يرجوا لقاء ربه
“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya,”
Tapi bukan berarti bertemu dengan Tuhannya secara nyata atau dengan penglihatan mata telanjang, akan tetapi manusia dapat berjumpa dengan Tuhannya dengan beberapa cara yakni dengan cara menggunakan mata batinnya pada saat melakukan Shalat dalam keadaan khusyu’, keterangan potongan ayat tersebut di atas ada korelasinya dengan ayat

الذين يظنون انهم ملقواربهم وانهم اليه راجعون
Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 46)
Hal yang sangat aneh apabila manusia kelak di akhirat nanti menginginkan bertemu dengan Tuhannya, tapi di dunia ini tidak pernah bertemu dengan Allah, Jadi tidak akan mungkin seseorang akan bertemu dengan Allah kelak di akhirat nanti apabila di dunia ini ia belum pernah bertemu dengan Allah dengan mata batinnya dalam shalatnya yang khusya’. Maka manusia dituntut untuk selalu berbuat kebaikan dan berkarya yang baik lagi bermanfaat sebagai suatu target dan tujuan dalam penghambaan terhadap Allah.
فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعبادة ربه احدا

“Maka hendaklah ia mengerjakan perbuatan yang baik dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"
Dalam hidup ini kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada sesamanya dan hendaknya mempunyai suatu karya terbaik yang dapat selalu dikenang, dimanfaatkan dan dirasakan oleh semua orang sebagai suatu perwujudan pengabdian diri manusia terhadap Tuhannya, yang merupakan suatu target dalam hidup didunia untuk mengabdi kepada Allah. Semoga kita semua sebagai makhluk yang baik selalu berbuat baik untuk dunia ini dan dapat mempunyai suatu karya yang dapat dikenang dan dimanfaatkan oleh sesamanya.
 
DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Mizan. Bandung. 2001.