Senin, 04 Maret 2013

TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING PERSON CENTERED THERAPY

TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING PERSON CENTERED THERAPY

A.    PERSON CENTERED THERAPY
Konseling berpusat pada person (person centred therapy) dikembangkan oleh Carl Person Rogers, salah seorang psikolog klinis yang sangat menekuni bidang konseling dan psikoterapi. Dia dilahirkan pada 1920 di Loak Park, Illinois. Psikoterapi ini berkembang pada tahun 1960an, psikoterapi ini menekankan bahwa prinsip terapi ini tidak hanya diterapakan dalam proses terapi tetapi prinsip-prinsip terapi ini dapat diterapkan di berbagai setting seperti dalam masyarakat. Titik berat dari PCT meningkatkan keterlibatan hubungan personal dengan klien, terapist lebih aktif & terbuka, lebih memperhatikan pengaruh lingkungan. Periode ini memperkenalkan unsur-unsur penting dari sikap-sikap terapis, yakni keselarasan, pandangan dan penerimaan positif, dan pengertian yang empatik sebagai prasyarat bagi terapi yang efektif.  
Didasarkan pada pandangan subjektif terhadap pengalaman manusia, menekankan sumber daya terapi untuk menjadi sadar diri self-aware dan untuk pemecahan hambatan ke pertumbuhan pribadi. Model ini meletakkan klien, bukan terapi, sebagai pusat terapi. Falsafah dan Asumsi Dasar Model ini berdasarkan pada pandangan positif tentang manusia yang melihat orang memiliki sifat bawaan berjuang keras ke arah menjadi untuk berfungsi secara penuh (becoming fully functioning). Asumsi dasarnya adalah dalam konteks suatu hubungan pribadi dengan kepedulian terapistklien mengalami perasaan yang sebelumnya ditolak atau disimpangkan dan peningkatan self-awareness.
B.     SEJARAH PERKEMBANGAN
Berdasarkan sejarahnya, teori konseling yang dikembangkan Rogers ini mengalami beberapa perubahan. Pada mulanya dia mengembangkan pendekatan konseling yang disebutnon-directive counseling (1940). Pendekatan ini sebagai reaksi terhadap teori-teori konseling yang berkembang saat itu yang terlalu berorientasi pada konselor atau directive counseling.Pada 1951 Rogers mengubah namanya menjadi client centred counseling sehubungan dengan perubaghan pandangan tentang konseling yang menekankan pada upaya reflektif terhadap perasaan klien. Enam tahun berikutnya, pada 1957 Rogers mengubah sekali lagi pendekatannya menjadi konseling yang berpusat pada person (person centred), yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun konselor dan keduanya perlu mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling berlangsung.
Konseling berpusat pada person ini memperoleh sambutan positif dari kalangan ilmuwan maupun praktisi, sehingga dapat berkembang secara pesat. Hingga saat ini, pendekatan konseling ini masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan. Dalam kaitan ini Geldard (1989) menyatakan bahwa karya Rogers ini memiliki kekuatan (powerfull) dan manfaat (userfull) dalam membantu klien.
C.     HAKIKAT MANUSIA.
Hakikat manusia menurut Rogers adalah sebagai berikut :
1.      Manusia cenderung untuk melakukan aktualisasi diri, hal ini dapat dipahami bahwa organisme akan mengaktualisasikan kemampuanya dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri.
2.      Perilaku manusia pada dasarnya sesuai dengan persepsinya tentang medan fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi. Oleh karena itu, persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subjektif.
3.      Manusia pada dasarnya bermanfaat dan berharga dan dia memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya.
4.      Secara mendasar manusia itu baik dan dapat dipercaya, konstruktif tidak merusak dirinya.
5.      Manusia pada dasarnya aktif, bukan pasif
6.      Setiap individu dlm dirinya terdapat motor penggerak : terbuka pd pengalaman diri, percaya pd diri sendiri.

D.    PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      Struktur Kepribadian
Rogers mengungkapkan bahwa terdapat tiga unsure yang sangat esensial dalam hubungannya dengan kepribadian, yaitu self, medan fenomenal, dan organisme.
1)      Self adalah bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan Rogers. Self (disebut pula struktur self atau self cencept) merupakan persepsi dan nilai-nilai individu tentang dirinya atau hal-hal lain yang berhubungan dengan dirinya. Self merupakan suatu konsepsi yang merupakan persepsi mengenai dirinya “I” atau “me” dan persepsi hubungan dirinya dengan orang lain dengan segala aspek kehidupannya. Self meliputi dua hal, yaitu self riil (real-self) dan self ideal (ideal-self). Real self merupakan gambaran sebenarnya tentang dirinya yang nyata, dan ideal-self merupakan apa yang menjadi kesukaan, harapan, atau yang idealisasi tentang dirinya.
2)      Medan fenomenal (fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pengalaman yang meliputi peristiwa-peristiwa yang diperoleh dari pengamatan dan dari apa yang pernah dilakukan individu. Pengalaman ada yang bersifat internal yaitu persepsi mengenai dirinya sendiri dan pengamatan yang bersifat eksternal yaitu persepsi mengenai dunia luarnya. Pengalaman-pengalaman ini berbeda individu satu dengan lainnya, dan dapat menjadi self. Kita dapat memahami medan fenomenal seseorang hanya dengan menggunakan kerangka pemikiran internal individu yang bersangkutan (internal frame of reference). Pemahaman secara empati, sebagai bentuk internal frame of reference, sangat berguna dalam memahami medan fenomenal ini.  
3)      Organisme merupakan keseluruhan totalitas individu, yang meliputi pemikiran, perilaku, dan keadaan fisik. Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri. Perilaku itu merupakan usaha organism yang berarah tujuan (goal-directed) yaitu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana dialaminya, dan dalam medan sebagaimana yang diamatinya. Dalam hubungan ini emosi menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas perilaku berarah tujuan itu. Kebanyakan cara-cara berperilaku yang diambil orang adalah yang selaras dengan konsep self. Organisme bereaksi terhadap medan fenomenal sebagaimana medan itu dialami dan diamati. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas). Organisme bereaksi terhadap medan fenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi. Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus menerus antara organisme, self, dan medan fenomenal.
2.      Pribadi sehat dan bermasalah
a.       Pribadi sehat
Pribadi yang sehat menurut Person Centered adalah:
1.      Kapasitas untuk memberikan toleransi pada apapun dan siapapun.
2.      Menerima dengan senang hati hadirnya ketidakpastian dalam hidup.
3.      Mau menerima diri sendiri dan orang lain.
4.      Spontanitas dan kreatif.
5.      Kebutuhan untuk tidak dicampuri orang lain dan menyendiri (privacy).
6.      Mempunyai kepedulian yang tulus pada orang lain.
7.      Mempunyai rasa humor
8.      Terarah dari dalam diri sendiri.
9.      Mempunyai sikap yang terbuka terhadap hidup.
10.  Mempercayai diri sendiri
11.  Adanya keselarasan atau kongruensi antara organisme, ideal self, dan self concept.

b.      Pribadi bermasalah
Karakteristik pribadi yang menyimpang menurut Person Centered adalah:
1.      Adanya ketidaksesuaian antara persepsi diri dan pengalamannya yang riil
2.      Adanya ketidaksesuaian antara bagaimana dia melihat dirinya (self-concept) dan kenyataan atau kemampuannya.
3.      pribadi yang inkongruensi atau tidak kongruen antara ideal self, self concept, dan organisme
4.      kesenjangan antara ideal self dan self concept, jika hal ini terjadi akan menimbulkan khayalan tinggi
5.      kesenjangan antara self concept dan organisme, sehingga dapat menimbulkan perasaan rendah diri (minder)
6.      Tidak mampu mempersepsi dirinya, orang lain, dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya secara objektif
7.      Tidak terbuka terhadap semua pengalaman yang mengancam konsep dirinya,
8.      Tidak mampu mengembangkan dirinya kearah aktualisasi diri
E.     HAKIKAT KONSELING
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.
F.      KONDISI PENGUBAHAN
1.      Tujuan
Secara ideal tujuan konseling berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya pribadi yang kongruensi saja. Bagi Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini, yaitu apa yang disebut dengan fully functioning person, yaitu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Rogers beranggapan bahwa fully functioning person merupakan hasil dari proses dan karena itu lebih bersifat becoming, sedangkan aktualisasi diri sebagaimana yang dikemukakan Maslow merupakan keadaan akhir dari kematangan mental dan emosional, karena itu lebih merupakan self-being (Cottone, 1991).
ü  Tujuan umum :
Meningkatkan derajat independensi (kemandirian) dan integrasi yang mengarah pada aktualisasi diri,
ü  Tujuan khusus meliputi:
-        Memberi kesempatan dan kebebasan pada individu untuk mengkspresikan perasaaan –perasaannya, berkembang dan terealisasi potensinya.
-        Membanntu individu untuk makin mampu berdiri sendiri dalam mengadakan integrasi dengan lingkungannya dan bukan pada penyembuhan tingkah laku itu sendiri.
-        Membantu individu dalam perubahan dan pertumbuhan.
2.      Sikap,peran dan tugas konselor
Pemahaman konselor dipusatkan pada sikap, keterampilan, tugas serta fungsinya. Menurut Rogers, sikap yang harus dimiliki konselor adalah kejujuran/ketulusan (kongruensi), sikap positif yang tidak bersyarat (unconditional positive regard) dan pemahaman empati yang akurat. Adapun keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh konselor adalah keterampilan mengamati tingkah laku konseli dan keterampilan mengkomunikasikan pemahaman terhadap konseli. Dan secara umum tugas dari konselor adalah menciptakan suasana konseling yang memfasilitasi pertumbuhan kepribadian konseli, sedangkan fungsi dari konselor adalah sebagai fasilitator, motivator, reflektor, dan model bagi konselinya.
Peran konselor antara lain:
a.       Terapist  tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan terapi tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.
b.      Terapist merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien.
c.       Terapist menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun.
d.      Terapist memberi kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
3.      Sikap,peran dan tugas klien
Agar proses konseling dapat mencapai perubahan pribadi konseli yang diinginkan, maka diperlukan beberapa kondisi yang seharusnya ada pada konseli, yaitu adanya kesediaan konseli secara sukarela untuk menerima bantuan dan dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dapat mengungkapkan perasaan tertekannya dengan baik dan konseli dan konselor harus bisa menciptakan suasana yang kondusif dalam proses konseling.
4.      Situasi Hubungan
Pada intinya, konseling person centred adalah terapi hubungan. Agar perubahan kepribadian konstruktif dapat terjadi, harus ada beberapa faktor dibawah ini dan harus terus ada selama beberapa waktu:
1)      Dua orang berada dalam kontak psikologis
2)      Yang pertama, mereka yang kita sebut istilah klien, dalam status tidak menentu, rapuh dan cemas.
3)      Orang kedua, kita sebut sebagai terapis, harmonis atau terintegrasi dalam hubungan.
4)      Terapis merasakan sikap positif tak bersyarat terhadap klien.
5)      Terapis merasakan pemahaman empatik terhadap kerangka rujukan internal klien (the internal frame of refence), dan berusaha mengkomunikasikan hal ini pada klien.
6)      Terjadinya pengkomunikasian pemahaman empatik terapis dan sikap positif tidak bersyarat terapis kepada klien, walaupun pada tingkatan yang paling minim.
G.    MEKANISME PENGUBAHAN
1.      Tahap – tahap konseling
Secara kongkrit, tahapan konseling dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Tahap Perkenalan
Pada tahap ini pemimpin yang berpusat pribadi diharapkan dapat menghindari penggunaan praktek yang direncanakan dan teknik. Sikap kepemimpinan dan karakter individu jauh lebih penting dibandingkan teknik yang digunakan. Dalam tahap perkenalan, konselor memulai percakapan.
b.      Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, teknik-teknik atau keterampilan kunci meliputi keterampilan mendengar aktif, klarifikasi, pengenalan diri, pemberian penghargaan dan pengertian. Anggota dituntun untuk berbicara secara terbuka tentang apapun yang mereka rasakan saat itu
c.       Tahap Akhir (Terminasi)
Pada tahap ini pemimpin tidak diperlukan lagi. Apabila kelompok telah berjalan secara efektif, maka untuk sekarang kelompok telah bergerak dan dapat menggambarkan potensi-potensi dirinya untuk digunakan dalam kelompok. Pemimpin dapat membantu anggotanya untuk menyimpulkan apa yang telah mereka dapatkan dan menerapkan hal tersebut dalam kehidupan nyata setelah sesi konseling kelompok diakhiri. Dalam tahap akhir ini konselor mengakhiri percakapan.
2.      Teknik – teknik konseling
Teknik-teknik konseling yang dapat diterapkan, antara lain:
a.       Rapport, yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan konseli agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.
b.      Teknik klarifikasi, yaitu suatu cara konselor untuk menjernihkan dan meminta konseli untuk menjelaskan hal-hal yang dikemukakan oleh kepada konselor.
c.       Teknik refleksi, (isi dan perasaan) yaitu usaha konselor untuk memantulkan kembali hal-hal yang telah dikemukakan konseli (isi pembicaraan) dan memantulkan kembali perasaan-perasaan yang ditampakkan oleh konseli.
d.      Teknik “free expression” yaitu memberikan kebebasan kepada klien untuk berekspresi, terutama emosinya, cara kerja teknik ini seperti cara kerja kataris.
e.       Teknik “silence”, yaitu kesempatan yang berharga diberikan oleh terapis kepada klien untuk mempertimbangkan dan meninjau kembali pengalaman-pengalaman dan ekspresinya yang lampau
f.       Teknik “transference” yaitu ketergantungan konseli kepada konselor. Hal ini dapat terjadi pada awal terapi, tapi bukan merupakan dasar untuk kemajuan terapi. Kemungkinan transference terjadi karena sikap konselor yang memberikan kebebasan tanpa menilai atau mengevaluasi konseli.
H.    KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PCT
Kelebihan dari pendekatan ini antara lain :
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada terapist.
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi
Kelemahan dari pedekatan ini antara lain :
1.      Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.      Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.      Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.      Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.      Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.      Terapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.      Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.      Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya
I.       SUMBER RUJUKAN