Kamis, 31 Januari 2013



MAKALAH
TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIORAL
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah teori dan pendekatan konseling)
Dosen Pembimbing : Ida Salasaningsih, S.Pd.Kons





 




Oleh :
Wianto / BKI III
NIM :
(2011143320188)





PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ATTANWIR
BOJONEGORO
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Akhirnya kami dapat menyelesaikan Makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori dan pendekatan Konseling. Adapun yang kami bahas dalam makalah sederhana ini mengenai Konsep – konsep dasar, proses, dan teknik konseling Behavioral.
Terselesaikanya makalah ini tidak terlepas dari adanya bantuan dari berbagai pihak untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada dosen pembimbing kami Ida Salasaningsih, S.Pd.Kons. dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi menyelesaikan makalah ini.
Tak ada gading yang  tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna begitu juga makalah ini yang jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami memohon kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak,demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amiiin….

                                                                                                            Sumberrejo, Januari 2013

                                                                                                            Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai permasalahan. Baik yang dialami secara individual, kelompok, dalam keluarga, lembaga tertentu atau bahkan bagian masyarakat secara lebih luas. Untuk itu ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu usaha pemberian bantuan yang diberikan baik kepada individu maupun kelompok dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan alam memberikan bimbingan adalah memahami individu (dalam hal ini peserta didik) secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakangnya. Sehingga peserta didik diharapakan dapat memperoleh bimbingan yang tepat dan terarah.
Untuk dapat memahami peserta didik secara lebih mendalam, maka seorang pembimbing maupun konselor perlu mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang peserta didik yang meliputi berbagai aspek, seperti: aspek sosial kultural, perkembangan individu, perbedaan individu, adaptasi, masalah belajar dan sebagainya. Dalam rangka mencari informasi tentang sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan langkah-langkah penanganan masalah tersebut maka diperlukan adanya suatu tehnik atau metode  yang terkait dengan permasalahan yang ada. Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu “TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING BAHAVIORAL”
B.     RUMUSAN MASALAH
Yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini ialah :
1.    Bagaimana konsep dasar Teori konseling Behavioral ?
2.    Bagaimana Proses pelaksanaan konseling Behavioral ?
3.    Apa saja teknik – teknik dari pendekatan Bahavioral ?
C.     TUJUAN
Sesuai dengan pokok permasalahan diatas, makalah ini memiliki tujun untuk :
1.    Menjelaskan konsep dasar Teori konseling Behavioral
2.    Menjelaskan Proses pelaksanaan konseling Behavioral
3.    Menjelaskan teknik – teknik dari pendekatan Bahavioral

BAB II
PEMBAHASAN

A.    TEORI KONSELING BEHAVIORAL
Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Muhamad  Surya  (1988:186)  memaparkan  bahwa  dalam  konsep  behavioral, perilaku  manusia  merupakan  hasil  belajar,  sehingga  dapat  diubah  dengan memanipulasi  dan  mengkreasi  kondisi-kondisi  belajar.  Pada  dasarnya,  proses konseling  merupakan  suatu  penataan  proses  atau  pengalaman  belajar  untuk membantu  individu  untuk  mengubah  perilakunya  agar  dapat  memecahkan masalahnya. Hal  yang  paling  mendasar  dalam  konseling  behavioral  adalah  penggunaan konsep-konsep  behaviorisme  dalam  pelaksanaan  konseling,  seperti  konsep reinforcement , yang nerupakan bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan  pengkondisiaan  operan  dari  Skinner.
Menurut  Krumboltz&  Thoresen  (Surya,  1988:187)  konseling  behavioral adalah suatu  proses  membantu  orang  untuk  belajar  memecahkan  masalah  interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Sejak perkembangannya tahun 1960-an, teknik-teknik modifikasi perilaku semakin bervariasi baik yang menekankan aspek perilaku nampak (fisik) maupun kognitif. Saat ini konseling behavioral berkembang pesat dengan ditemukannya sejumlah teknik-teknik pengubahan perilaku, baik yang menekankan pada aspek fisiologis, perilaku, maupun kognitif (Hackman, 1993). Rachman (1963) dan Wolpe (1963) mengemukakan bahwa terapi behavioral dapat menangani masalah perilaku mulai dari kegagalan individu untuk belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala neurosis.
B.     SEJARAH PERKEMBANGAN
Perkembangan  koseling  behavioral  bertolak  dari  perkembanngan  aliran behavioristik  dalam  perkembangan  psikologi  yang  menolak  pendapat  aliran strukturalisme  yang berpendapat  bahwa  mental,  pikiran  dan  perasaan  hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi. Aliran  Behaviorisme  menolak  metode  introspeksi  dari  aliran  strukturalisme dengan  sebuah  keyakinan  bahwa  menurut  para  behaviorist  metode  introspeksi  tidak dapat  menghasilkan  data  yang  objektif,  karena  kesadaran  menurut  para  behaviorist adalah sesuatu  yang  tidak  dapat  diobservasi  secara langsung,  secara  nyata  (Walgito,2002:53).  Bagi  aliran  Behaviorisme  yang  menjadi focus  perhatian  adalah  perilaku  yang  tampak,  karena  persoalan  psikologi  adalah tingkah  laku,  tanpa  mengaitkan  konsepsi-konsepsi  mengenai  kesadaran  dan mentalitas.
Pada awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun pada  saat  yang  hamper  bersamaan  di  Amerika  behaviorisme  muncul  dengan  salah satu tokoh utamanya John B. Watson. Watson memandang Inti dari behaviorisme adalah memprediksi dan mengontrol perilaku. Karyanya diawali dengan artikelnya psychology as the behaviorist views it pada tahun 1913. Di dalam artikelnya tersebut Watson mengemukakan pandangan behavioristiknya yang membantah pandangan strukturalisme dan fungsionalisme tentang kesadaran. Menurut Watson (behaviorist view) yang dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran, kaena kesadaran adalah sesuatu yang  tidak  dapat  diobservasi  secara langsung,  secara  nyata. Metode-metode obyektif Watson lebih banyak menyukai studi mengenai binatang dan anak-anak, seperti sebuah studi yang ia lakukan dalam pengkondisian rasa takut pada anak-anak.
C.     HAKIKAT MANUSIA
Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah pasif dan mekanistis, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi Muhamad Surya (1988:186) menjelaskan tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristiksebagai berikut: dalam  teori  ini menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada  lingkungan  dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministic dan sedikit peran aktifnya dalam  memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya,dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk  kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Konseling behavioral ini berpandangan bahwa manusia itu:
1.      Lahir dalam mempunyai bawaan netral, artinya manusia itu hak untuk berbuat baik/buruk/jahat.
2.      Lahir dengan membawa kebutuhan dasar dan dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan.
3.      Kepribadian manusia berkembang atas dasar interaksi dengan lingkungannya.
4.      Mempunyai tugas untuk berkembang melalui kegiatan belajar.
5.      Manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan.

D.    PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      Struktur Kepribadian
Kaum behavioris tidak menjelaskan struktur kepribadian seperti pada aliran lain seperti psikoanalis, tetapi menurut teori kepribadian behavioristik bahwa kepribadian manusia adalah perilaku organisme itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kerpribadian manusia dapat di ketahui melalui tingkahlaku yang tampak dan diamati (observable behavior).Selain itu ada pandangan dualiasme yang berkembang dalam pendekatan behavior bahwa manusia memiliki jiwa, raga, mental, fisik, sikap, perilaku dan sebagainya (Latipun, 2005). Seperti yang dijabarkan dibawah ini:
a.       Lingkungan dan pengalaman menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang dibentuk.
b.      Dualisme, seperti jiwa-raga, raga-semangat, raga-pikiran bukan merupakan validitas keilmuan pada pembentukan, prediksi dan control dari perilaku manusia.
c.       Walaupun pembentukan kepribadian memiliki batsan genetis namun efek dari lingkungan dan stimulus dari dalam memiliki pengaruh dominan.
d.      Dalam membentuk sebuah teori dari kepribadian prediksi dan control dan perilaku merupakan hal terpenting. Tidak ada yang lebih penting selain kebebasan dalam penentuan respon.
e.       Semua perilaku dapat dipisah menjadi operant respondent yaitu individual respon yang berbeda dalam pengaruh control dari stimulus lingkungan.
2.      Pribadi sehat dan bermasalah
a.       Pribadi sehat
Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut;
a)      Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara cepat.
b)      Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan.
c)      Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkah laku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan.
d)     Dapat mengambil keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi.
e)      Mempunyai self control yang memadai
b.      Pribadi bermasalah
Kepribadian yang dipandang bermasalah menurut teori ini adalah sebagai berikut;
a)      Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
b)      Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
c)      Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
d)     Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan lingkungan
e)      Tingkah laku yang tidak wajar menurut standard nilai,  yang kemudian menimbulkan konflik dengan lingkungan
E.     HAKIKAT KONSELING
Hakikat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang sesuai.
Konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ; penyusunan kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan eveluasi perilaku. Dengan prosedur tersebut konseling/terapi behavior berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang maladaptif menjadi adaptif.
F.      KONDISI PENGUBAHAN
1.    Tujuan konseling behavioral
Sesuai dengan namanya maka tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi.  Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
1)      Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
2)      Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
3)      Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
4)      Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
5)      Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
6)      Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor
2.    Sikap, peran dan tugas konselor
Konselor dalam behavior therapy secara umum berfungsi sebagai guru dalam mendiaknosa tingkah laku yang tidak tepat dan mengarah pada tingkah laku yang lebih baik. Peran konselor secara khusus diantaranya :
a)      Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak;
b)      Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling;
c)      Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.
3.    Sikap, peran dan tugas konseli
Dalam konseling behavioral klien dan konselor aktif terlibat di dalamnya. Klien secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan serta memiliki motivasi untuk berubah dan bersedia bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan konseling. Peran penting klien dalam konseling adalah klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru yang bertujuan untuk memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya serta dapat menerapkan perilaku tersebut dalah kehidupan sehari-hari.
4.    Situasi Hubungan
Dalam terapi behavioral, hubungan antara terapis dan klien dapat memberikan kontribusi penting bagi perubahan perilaku klien. Hubungan terapis sebagai fasilitator terjadinya perubahan. Sikap konselor seperti empati, permisif, acceptance dianggap sebagai hal yang harus ada, namun tidak cukup untuk bisa menciptakan perubahan perilaku. Masalah ada pada bukan pentingnya hubungan namun peranan hubungan sebagai landasan strategi konseling untuk membantu klien berubah sesuai dengan arah yang dikehendaki.
G.    MEKANISME PENGUBAHAN
1.    Tahap – tahap konseling
Proses konseling behavioral, dilaksanakan melalui empat tahap sebagai berikut:
1)      Tahap  Penilaian (Assesmen)
Yaitu tahapan yang mensyaratkan konselor mampu untuk memahami karakteristik klien beserta permasalahannya secara utuh (mencakup aktivitas nyata, perasaan, nilai-nilai dan pemikirannya). Sehubungan dengan hal ini, maka konselor harus terampil dalam mengumpulkan berbagai informasi/data klien, instrumen yang digunakan dan sumber data yang valid.
2)      Tahap Penetapan tujuan (Goal setting)
Yaitu antara konselor dan klien menetapkan tujuan konseling berdasarkan analisis dari berbagai informasi/data. Dalam tahap ini telah disepakati kriteria perubahan tingkah laku yang perlu dilakukan klien dalam rangka memecahkan masalahnya.
3)      Tahap Penerapan teknik  (Techniques implementation)
Yaitu penerapan ketrampilan dan teknik-teknik konseling dalam upaya membantu klien mengatasi masalahnya (merubah perilakunya). Dalam hal ini disamping harus menguasai konsep dasar konseling behavior, konselor harus benar-benar mampu menerapkan berbagai teknik konseling.
4)      Tahap evaluasi dan terminasi (Evaluation and Termination)
Yaitu tahapan dimana seorang konselor mengetahui perubahan perilaku klien sebagai tolok ukur proses konseling berlangsung. Terminasi, yaitu pemberhentian proses konseling yang bertujuan untuk:
a.       Menguji apa yang dilakukan klien pada dekade terakhir.
b.      Eksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan
c.       Membantu klien mentransfer apa yang dipelajari klien
d.      Memberi jalan untuk memantau tingkah laku klien secara berkelanjutan.
2.    Teknik konseling
1.      Desentisasi sistematik (Systematic desensitization )Desentisasi sistematik, teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistik (keadaan relaksasi).
2.       Latihan Asertif (Assertive training), yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya (misalnya: ingin marah tetapi tetap berespon manis). Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).
3.       Terapi Aversi (Aversion therapy ), Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku yang positif. Dalam hal ini konselor dapat menerapkan punishment (sangsi) dan reward (pujian/hadiah) secara tepat dan proposional terhadap perubahan perilaku klien.
4.      Terapi implosif dan pembanjiran, Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Teknik pembanjiran ini tidak menggunakan agen pengkondisian balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
5.       Pekerjaan Rumah (Home work), Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas rumah (untuk satu minggu), misalnya: tidak menjawab apabila klien dimarahi ibunya atau bapaknya.
H.    KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
1.    Kelemahan
a.       Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
b.      Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
c.       Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
d.      Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.
2.    Kelebihan
a.       Mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada proses koseling
b.      Mengembangkan perilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
c.       Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan pada perilaku yang terjadi dimasa datang

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Hal  yang  paling  mendasar  dalam  konseling  behavioral  adalah  penggunaan konsep-konsep  behaviorisme  dalam  pelaksanaan  konseling, .
Tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Klien menghadapi masalah karena salah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau masalah itu timbul karena terjadi penyimpangan perilaku dari apa yang seharusnya ia lakukan. Maka melalui konseling behavioral ini klien diharapkan mampu untuk meningkatkan ketrampilan sosial, memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan mengembangkan keterampilan self manajemen dan self control.
B.     Saran
Bentuk terapi konseling yang dibahas dalam makalah singkat ini dapat digunakan untuk terapi klien yang mengalami permasalahan dalam bertingkah laku. Dalam penerapan model konseling ini hendaknya konselor memiliki keahlian dan kerampilan yang benar-benar sesuai dan profesional pada bidangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Refika Aditama. Bandung.
Jones, Richard Nelson. (2011). Teori dan Praktik Konseling dan TerapiPustaka Pelajar. Yogyakarta.