Rabu, 06 April 2016

PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN



RESUME
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN
(Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Komunikasi)
Dosen Pembimbing : Retno Susanti, M.Pd

BAB 7
PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN
A.       PSIKOLOGI KOMUNIKATOR
Laswell (1948) menyebutkan komunikasi sebagai “who says what channel to whom whit what effect”. Untuk what channel to whom with what effect  sudah dibahas pada materi sebelumnya. Pada psikologi komunikator ini kita akan membahas who says sedangkan what akan kita bahas pada psikologi pesannya.
Who says berarti siapa yang berbicara, artinya ketika komunikator berkomunikasi yang berpengaruh bukan saja apa yang ia katakan, tetapi juga keadaan dia sendiri, ia tidak dapat menyuruh pendengar memperhatikan apa yang ia katakan. Kadang – kadang siapa lebih penting dari apa.
Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai ethous. Ethous terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak yang baik ( good moral character), dan maksud yang baik ( good will).
Dimensi – dimensi ethos.
Ethos atau faktor – faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikator terdiri atas:
1.      Kredibilitas
Kredibilitas  adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat – sifat komunikator. Karena kredibilitas itu masalah persepsi, kredibilitas berubah bergantung pada pelaku persepsi (komunikate), topik yang dibahas, dan situasi. Oleh karena itu, ia dapat berubah atau diubah,dapat terjadi atau dijadikan. Sedangkan komponen – komponen kredibilitas adalah keahlian dan kepercayaan. Keahlian berarti kesan yang dibentuk oleh komunikate tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan. Kepercayaan berarti kesan komunikate tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya. Kemudian Koehler, Annatol, dan Applbaum (1978 : 144-147) menambahkan empat komponen lagi yaitu ; 1) Dinamisme, 2) Sosiabilitas, 3) Koorientasi dan,    4) karisma.
2.      Atraksi (Atractioness)
Faktor – faktor situasional yang mempengaruhi atraksi interpersonal adalah daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan, dan kemampuan. Kita cenderung menyenangi orang – orang yang tampan atau cantik, yang banyak kesamaannya dengan kita dan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kita.
3.      kekuasaan
Dalam kerangka teori Kelman, kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan. Jenis – jenis kekuasaan menurut French dan Raven yang telah di modifikasi Raven (1974)
a.       kekuasaan koersif (Coersive power), kekuasaan koersif menunjukan kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau memberikan hukuman pada komunikate.
b.      Kekuasaan keahlian (Expert Power), kekuasaan ini berasal dari pengetahuan, pengalaman, ketrampilan atu kemampuan yang dimiliki komunikator.
c.       Kekuasaan Informasi (Informational power), kekuasaan ini berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh komunikator.
d.      Kekuasaan rujukan (Referent power), komunikate menjadikan komunikator sebagai kerangka rujukan untuk  menilai dirinya.
e.       Kekuasaan legal (Legitimate power), kekuasaan ini berasal dari seperangkat aturan atau norma yang menyebabkan komunikator berwewenang untuk melakukan suatu tindakan.
Menurut Herbert C.Kelman (1975) pengaruh komunikasi kita pada orang lain berupa tiga hal :
1.      Internalisasi, hal ini terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku yang di anjurkan itu sesuai dengan sistem nilai yang dimilikinya. Dimensi ethos yang paling relevan disini adalah kredibilitas, keahlian komunikator atau kepercayaan kita pada komunikator.
2.      Identifikasi, hal ini terjadi bila individu mengambil perilaku yang berasal dari orang atau kelompok lain karena perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang mendefinisikan diri secara memuaskan dengan orang atau kelompok itu. Dimensi ethos yang paling relevan dengan identifikasi ialah atraksi (attractiveness) – daya tarik komunikator.
3.      Ketundukan (Compliance), hal ini terjadi bila individu menrima pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok tersebut. Dimensi ethos yang paling relevan dengan ketundukan adalah kekuasaan.



B.       PSIKOLOGI PESAN
Seorang Psikolinguistik dari Rockefeller University, George A. Miller pernah menulis :“Kini ada seperangkat perilaku yang dapat megedalikan pikiran dan tindakan orang lai secara perkasa. Teknik pengendalian ini dapat menyebabkan Anda melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Anda tidak dapat melakukannya tanpa adana teknik itu. Teknik itu dapat mengubah pendapat dan keyakinan, dapa digunakan untuk menipu anda dapat membuat anda gembira dan sedih, dapat memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam kepala Anda, dapat membuat anda menginginkan sesuatu yang tidak Anda miliki. Anda pun bahkan dapat menggunakannya untuk mengendalikan diri Anda sendiri. Teknik ini adalah alat yang luar biasa perkasanya dan dapat digunakan untuk apa saja.” (miller, 1974: 4)
Teknik ini tidak ditemukan oleh psikolog, tidak berasal dari pemberian mahluk halus, tidak juga diperoleh secara para psikologis atau lewat ilmu klenik. Teknik ini telah dimiliki bahasa. Dengan bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata, anda dapat mengatur perilaku orang lain.
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut paralinguistic. Akan tetapi, manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lai selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat; ini disebut pesan ekstralinguistik. Pesan paralinguistik dan ekstralinguistik akan kita uraikan dalam satu bagian yang kita sebutPesan nonverbal. Selanjutnya kita akan membicarakan struktur dan imbauan pesan.
1.      Pesan Linguistik
Ada dua cara mendefinisikan bahasa : fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan” (socially shared means for expressing ideas). Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa (all the conceivable sentences that could be generated according to the rules of its grammar).
Tata bahasa meliputi tiga unsur : fonologi, sintaksis, dan semantic. Menurut George A.Miller (1974:8), untuk mampu menggunakan bahasa tertentu, kita harus menguasai ketiga tahap pengetahuan bahasa di atas, di tambah dua tahap lagi.
ü  Pada tahap pertama, kita harus memiliki informasi fonologis tentang bunyi-bunyi  dalam bahasa itu.
ü  Tahap Kedua, Kita harus memiliki pengetahuan sintaksis tentang cara pembentukan kalimat.
ü  Tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau gabungan kata-kata.
ü  Pada tahap keempat,kita harus memiliki pengetahuan konseptual tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan.
ü  Tahap kelima kita harus mempunyai semacam system kepercayaan untuk menilai apa yang kita dengar.
Bagaimana kita dapat berbahasa ?
Penemuan Victor menunjukan bahwa bila dipisahkan dari lingkungan manusia, seorang anak tidak memiliki kemampuan bicara. Sebaliknya, kita melihat anak yang dibesarkan didalam masyarakat manusia, pada usia 4 tahun sudah bisa berdialog denga kawan-kawannya dalam bahasa ibunya. Dalam berbahasa, Psikologi membagi kedalam 2 teori yaitu : teori belajar dari behaviorisme dan teori naratisme dari Noam Chomsky.
Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses : asosiasi, imitasi, dan peneguhan. Asosiasi berarti melazimkan suatu bunyi dengan obyek tertentu. Imitasi berarti menirukan pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya. Peneguhan dilaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak mengucapkan kata-kata yang benar. Psikolog dari Harvad, B.F.Skinner menerapkan ketiga prinsip ini ketika ia menjelaskan tiga macam respons yang terjadi pada anak-anak kecil, yang disebutnya sebagai respons mand, tact, dan echoice. Respons mand dimulai ketika anak-anak mengeluarkan bunyi sembarangan. Respons tact terjadi bila anak menyentuh objek, kemudian secara sembarangan ia mengeluarkan bunyi. Respons echoic terjadi ketika anak menirukan ucapan orang tuanya dalam hubungan dengan stimuli tertentu.
Menurut ahli bahasa dari Massachuset Institute Technology ini, teori belajar hanyalah “play acting at sicience”, suatu penjelasan yang sama sekali tidak tepat tetapi dibungkus dengan istilah-istilah yang bernada ilmiah.
Menurut Chomsky, setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa karena adanya pengetahuan bawaan (preexistent knowledge) yang telah deprogram secara genetic dalam otak kita. Teori perkembangan mental dari Jean Piaget memperkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada tahap-tahap tertentu pada perkembangan mental anak-anak.
Bahasa dan Proses Berpikir
Secara singkat teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa ; dan karena bahasa berbeda, pandangan kita tentang dunia pun berbeda pula. Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti yang telah deprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.
Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep-konsep dalam suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu. Ada bahasa yang dengan mudah dapat dipergunakan untuk memikirkan masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang sederhana.
Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa kita mengabstraksikan pengalaman kita, dan yang lebih penting mengkomunikasikan kepada orang lain. “pemikiran yang tinggi bergantung pada manipulasi lambing,” kata Morton Hunt (1982:227),” dan walaupun lambang-lambang nonlonguistik seperti matematika dan seni sudah canggih, lambang-lambang itu sempit. Sebaliknya, bahasa merupakan pemikiran. Bahasa adalah prasyarat kebudayaan, yang tidak dapat tegak tanpa itu dengan sistem lambang yang lain. Dengan bahasa, kita, manusia, mengkomunikasikan kebanyakan pemikiran kita kepada orang lain dan menerima satu sama lain hidangan pikiran (food for thought).
Kata-kata dan Makna
Konsep makna telah menarik menarik perhatian komunikasi, psikologi, sosiologis, antropologis, dan linguistic. Banyak antara makna penjelasan tentang makna terlalu kabur dan spekulatif kata Jerold katz (1973:42).
Brodbeck (1963) meenjernihkan pembicaraan dengan membagi makna pada tiga corak.
1.      Makna yang pertama adalah makna inferensial, yakni makna satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Dalam uraian Ogden dan Richards (1946), proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referent). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan.
2.      Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep lain. Fisher memberi contoh dengan kata pholigoston. Kata ini dahulu dipakai untuk menjelaskan proses pembakaran. Benda bernyala Karena ada pholigoston. Kini, setelah ditemukan Oksigen, pholigoston tidak berarti lagi.
3.      Makna ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksud oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak dapat divalidasi secar empiris atau dicari rujukannya.
Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme, isoformisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideology yang sama ; pendeknya, mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isoformisme total. Selalu tersisa ada makna perorangan.
Teori General Semantics
Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik, kata pengikut general semantics. General semantics tidak menjelaskan proses penyandian, tetapi ia menujukkan karakteristik bahasa yang mempersulit proses ini. Peletak dasar teori ini adalah Alferd Korzybski, pemain pedang, insinyur, spion, pelarian, ahli matematika, psikiater, dan akhirnya ahli bahasa.
Korzybski melambangkan asumsi dasar teori general semantics : bahasa seringkali tidak lengkap mewakili kenyataan; kata-kata hanya menangkap sebagian saja aspek kenyataan. Berikut ini nasihat Korzybski, dua bersifat perintah dan dua larangan.
1)      Berhati-hati dengan Abstraksi
Bahasa menggunakan Abstraksi. Abstraksi adalah proses memilih unsur-unsur realitas untuk membedakannya dari unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang digunakan berada pada tingkat abstraksi yang bermacam-macam. Abstraksi menyebabkan cara-cara penggunaan bahasa yang tidak cermat. Tiga buah diantaranya adalah: dead level abstracting, undue identification, Two-valued evaluation. Abstraksi kaku, terjadi bila kita berhenti pada tingkat abstraksi tertentu Two-valued evaluation, penilaian dua nilai, pemikiran kalu begini begitu ialah kecenderungan menggunakan hanya dua kata untuk melukiskan keadaan.
2)      Berhati-hati dengan Dimensi Waktu
Bahasa itu statis, sedangkan realitas itu dinamis. Umtuk mengatasi ini general semantics merekomendasikan dating(penanggalan).
3)      Jangan Mengacaukan Kata dengan Rujukannya
Hubungan antara kata dengan rujukannya tidak semena-mena. Kata itu bukan rujukan, kata hanya mewakili rujukan. Karena kita sering mengacaukan kata dengan rujukan, kita juga cenderung menganggap orang lain mempunyai rujukan yang sama untuk kata-kata yang kita ucapkan.
4)      Jangan Mengacaukan Pengalaman dengan Kesimpulan.
Ketika melihat fakta, kita membuat pernyataan untuk melukiskan fakta itu. Pernyataan itu kita sebut sebagai pengalaman. Kita menarikkesimpulan itu. Pernyataan itu kita sebut pengamata. Kita menarik kesimpulan bila menghubungkan hal-hal yang diamati dengan sesuatu yang tidak teramati. Dalam pengamatan kita menghubungkan lambang dengan rujukan. Dalam kesimpulan kita menggunakan pemikiran. Pengamatan dapat diuji, diverifikasi karena itu menggunakan kata-kata abstraksi rendah. Penyimpulan tidak dapat diuji secara empiris karena itu menggunakan kata-kata berabstraksi tinggi.
2.      Pesan Nonverbal
Orang mengungkapkan penghormatan kepada orang lain dengan cara yang bermacam-macam. Orang Arab menghormati orang asing dengan memeluknya. Orang-orang Polinesia menyalami orang lain dengan saling memeluk dan mengusap punggung. Orang Jawa menyalami orang yang dihormatinya dengan sungkem, Orang Jawa duduk bersial menyambut kedatangan orang yang mulia; orang belanda malah berdiri tegak. Tepuk tangan, pelukan, usapan, duduk, dan berdiri tegak adalah pesan nonverbal yang menerjemahkan gagasan, keinginan, atau maksud yang terkandung dalam hati kita.
Fungsi Pesan Nonverbal
Betapapun kekurangannya-seperti disindir Korzybski dan kawan-kawan-bahasa telah sanggup menyampaikan informasi kepada orang lain. Dalam hubungannya dengan bahasa, mengapa pesan nonverbal masih dipergunakan? Apa fungsi peran nonverbal?Mark L.Knapp (1972:9-12) menyebutkan lima fungsi nonverbal 1.) Refetisi-mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya, setelah saya menjelaskan penolakansaya, saya menggelengkan kepala berkali-kali,(2) Subtitusi-menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa sepatah katapun anda berkata. Anda dapat menunjukkan persetujuan denagn mengangguk-angguk, (3) Kontradiksi-menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya, anda memang hebat, (4) Komplemen- melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata,(5) Aksentuasi- menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinnya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul mimbar.
Organisasi Pesan
Aristoteles, dalam buku klasik tentang komunikasi De Arte Rhetorica, menerangkan peranan taxsis dalam memperkuat efek pesan persuasive. Yang dimaksud dengan taxsis adalah pembagian atau rangkaian penyusunan pesan. Ia menyarankan agar setiap pembicaraan disusun menurut urutan: pengantar, pertanyaan, argument, dan kesimpulan. Pada tahun 1952, Beighley meninjau kembali berbagai penelitian yang ,membandingkan efek pesan yang tersusun dengan pesan yang tidak tersusun. Ia menemukan bukti yang nyata yang menunjukkan bahwa pesan yang diorganisasikan dengan baik lebih mudah dimengerti dari pada pesan yang tidak tersusun dengan baik.
Alan H.Monroe pada akhir tahun 1930-an. Menyarankan lima langkah dalam penyusunan pesan,dan kemudian urutan ini disebut dengan “motivated sequence” :
1.      attention (perhatian)
2.      need (kebutuhan)
3.      satisfaction (pemuasan)
4.      visualization (visualisasi)
5.      action (tindakan)
Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain,rebutlah lebih dahulu perhatiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya keuntungan dan kerugian apa yang akan diperolehnnya bila ia menerapkan atau tidak menerapkan gagasan anda, dan akhirnya doronglah dia untuk bertindak.
Sturuktur Pesan
Bayangkan Anda harus menyampaikan informasi di hadapan khalayak yang tidak sefaham dengan anda. Anda harus menentukan apakah bagian penting dari argumentasi anda yang harus didahulukan atau bagian yang kurang penting. Ataukah kita harus membiarkan hanya argument-argument yang menunjang kita saja atau harus membicarakan yang pro dan kontra sekaligus.untuk menjawab sekaligus pertanyaan yang pertama banyak penelitian telah dilakukan disekiotar konsep primacy-recency. Koehler et al.(1978:170-172), dengan mengutip Cohen, menyebutkan kesimpulan penelitian tersebut sebagai berikut:
1)      Bila pembicara menyajikan dua sisi persoalan (yang pro dan kontra), tidak ada keuntungan untuk berbiacara yang pertama, karena berbagai kondisi(waktu, khalayak, tempat dan sebagainnya) akan menentukan pembicara yang paling berpengaruh..
2)      Bila pendengar secara terbuka memihaksatu sisi argument, sisi yang lain tidak mungkin mengubah posisi mereka. Sikap nonkompromistis ini mungkin timbul karena kebutuhan untuk mempertahankan harga diri. Mengubah posisi akan  membuat orang kelihatan tidak konsisten, mudah dipengaruhi dan bahkan tidak jujur.
3)      Jika pembicara menyajiakan dua sisi persoalan, kita biasanya lebih mudah dipengaruhi oleh sisi yang disajikan lebih dahulu. Jika ada kegiatan diantara penyajian, atau jika kita diperingati oleh pembicara tentang kemungkinan disesatkan orang, maka apa yang dikatakan terakhir akan lebih banyak memberikan efek. Jika pendengar tidak tertarik pada subjek pembicaraan kecuali setelah menerima informasi tentang hal itu, mereka akan sukar mengingat dan menerapkan informasi tersebut. Sebaliknya, jika mereka sudah tertarik pada suatu persoalan , mereka akan mengigatnya baik-baik dan menerapkannya.
4)      Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan yang dikehendaki. Atau yang diterima disajikan sebelum gagasan yang kurang dikehendaki. Jika pada awal penyajian, komunikator menyampaikan gagasan yang menyenagkan kita, kita akan cenderung dan memperhatikan dan menerima pesan-pesan berikutnya. Sebaliknya, jika ia memulai dengan hal-hal yang tidak menyenagkan kita, kita akan menjadi kristis dan cenderung menolak gagasan berikutnya, betapapun baiknya.
5)      Urutan pro-kon  efektif fari pada urutan kon-pro bila digunakan oleh sumber yang memiliki otoritas dan dihormati oleh khalayak.
6)      Argumen yang terakhir didengar akan lebih efektif bila ada jangka waktu cukup lama di antara dua pesan, dan pengujian segera terjadi setelah pesan kedua.
Imbauan Pesan (Message Appeals)
Bila pesan-pesan kita dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif yang menggerakan atau mendorong prilaku komunikate. Dengan perkataan lain, kita secara psikologis mengimbau khalayak untuk menerima dan melaksanakan gagasan kita. Dalam uraian kita yang terakhir ini, kita akan membicarakan imbauan rasional, imbauan emosional, imbauan takut, imbauan ganjaran dan imbauan motivasional. Imbauan rasional didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada dasarnya makhluk rasional yang baru bereaksi pada imbauan rasional, bila imbauan rasional tidak ada. Menggunakan imbauan rasional artinya menyakinkan orang lain dengan pendekatan logis atau penyajian bukti-bukti.
Imbauan emosional menggunakan persyaratan –persyaratan atau bahasa yang menyentuh emosi komunikate. Imbauan takut menggunakan pesan yang mencemaskan, mengancam, atau meresahkan. Imbauan ganjaran menggunakan rujukan yang menjanjikan komunikate sesuatu yang mereka perlukan atau yang menjanjikan komunikate Sesuatu yang mereka perlukan atau yan mereka inginkan. Imbauan motivasional menggunakan imbauan motif (motive appeals) yang menyentuh kondisi intern dalam diri manusia.

Daftar Pustaka
Rakhmat , Jalaluddin (2001). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.